RSUD Bung Karno Resmi Beroperasi

RSUD Bung Karno Resmi Beroperasi
Loading...

Hampir sebulan publik menanti operasional Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bung Karno. Usai soft launching pada 17 Agustus, rumah sakit kedua milik Pemkot Surakarta itu memang belum memberikan pelayanan kesehatan bagi warga.

Maklum, manajemen RSUD masih membutuhkan waktu guna menyiapkan sederet berkas administrasi dan menyelesaikan pengadaan obat sebelum membuka layanan kesehatan. “Tapi per hari ini, Senin (23/9), RSUD Bung Karno sudah bisa beroperasi dan menerima pasien,” tegas Direktur RSUD, Wahyu Indianto.

Pernyataan Wahyu tersebut jelas melegakan. Apalagi sebelumnya Pemkot sudah menargetkan rumah sakit tipe C itu bisa beroperasi per 1 September. “Operasionalnya memang sedikit mundur. Sebelumnya kami harus menunggu terbitnya aturan tentang pelayanan dan tarif rumah sakit. Juga pengadaan obat dan peralatan medis lainnya.”

Bahkan khusus pengadaan obat, manajemen RSUD Bung Karno harus menghadapi kendala yang cukup berat. “Kami sampai gagal melelang pengadaan obat sebanyak dua kali. Ada masalah terkait sistem layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) versi terbaru, yakni 5.0. Tidak semua peserta lelang bisa mengakses versi tersebut,” papar Wahyu.

Untungnya, seluruh masalah itu secara perlahan bisa diurai. “Stok obat sudah memadai. Kami bekerjasama dengan RSUD Surakarta, sehingga obat-obatan dan reagen bisa dipinjam dari sana,” tutur dia.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Bung Karno, Bintang Setya Nusantara, meyakinkan bahwa jumlah obat yang dipinjam dari RSUD Surakarta itu relatif sedikit. “Hanya sekitar 30 persen dari total kebutuhan obat-obatan. Nantinya juga akan kami kembalikan dalam bentuk obat, setelah pengadaan selesai beberapa minggu lagi,” tegas Bintang.

Dengan resmi dioperasikan sebagai rumah sakit tipe C, RSUD Bung Karno tentunya siap melayani keperluan pemeriksaan kesehatan sesuai standar pemerintah. Kepala Bidang (Kabid) Penunjang Medis RSUD Bung Karno, Novita Indriani, membeberkan jika Instalasi Gawat Darurat (IGD), laboratorium, poliklinik, dokter spesialis anak, dokter spesialis kandungan, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis bedah, ICU/NICU/PICU sudah standby untuk menerima calon pasien.

Sekalipun Novita mengakui, belum semua ruang rawat inap selesai ditata. “Saat ini kami memang terus menata seluruh ruangan dan peralatan, namun sebagian ruang rawat inap itu sudah bisa digunakan menampung pasien. Total ada 82 bed (tempat tidur pasien) yang sudah bisa dipakai di seluruh kelas perawatan,” jelas dia.

Sebagai gambaran, dalam tahap awal operasional RSUD Bung Karno itu manajemen menyiapkan ruang rawat inap di lantai tiga dan empat. Adapun berdasarkan rencana pengelola, lantai lima dan enam juga difungsikan sebagai ruang rawat inap.

Ruangan di lantai tiga dikhususkan bagi pasien ibu dan anak, adapun ruangan di lantai empat diperuntukkan bagi pasien umum. “Semuanya terdiri dari kelas I, II dan III. Nantinya akan kami tambah ruang VIP, karena kondisi masih memungkinkan,” kata Novita.

Ya, meski belum sempurna manajemen memang enggan berlama-lama menunda operasional RSUD. Wahyu pun berharap, operasional RSUD Bung Karno bisa menjawab kebutuhan warga akan pelayanan kesehatan yang berkualitas. “Beberapa waktu terakhir, sudah ada warga yang datang ke sini dan menanyakan kapan rumah sakit dibuka. Saya sering mendapatkan laporan dari satpam soal itu. Bahkan tidak jarang mereka datang ke sini malam-malam,” ungkapnya.

Jika masih ada pekerjaan rumah lainnya, kiranya hanya memastikan pelayanan kesehatan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Wahyu mengakui, hingga kini kerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan belum tuntas. Akibatnya RSUD Bung Karno belum bisa menerima pasien BPJS.

“Jadi untuk sementara semua calon pasien yang datang ke RSUD Bung Karno akan kami perlakukan sebagai pasien umum. Kerjasama dengan Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sedang dalam proses dan kami sudah mengajukan permohonannya. Diharapkan sebulan ke depan pasien BPJS sudah bisa diakomodasi,” urai dia.

Meski demikian manajemen tidak mau mengecilkan arti pelayanan terhadap warga. Pasien BPJS pun tetap dilayani dalam kondisi medis tertentu, khususnya gawat darurat. “Tapi layanan itu dibatasi hanya untuk kegawatdaruratan. Jika kondisi pasien sudah stabil, maka pasien tersebut akan kami rujuk ke rumah sakit lainnya.” (**)

banner 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *